ISMA Journal: Islamic Studies and Muslim Societies https://jurnal-umberau.com/index.php/ismajournal <p><strong data-start="123" data-end="177">ISMA Journal: Islamic Studies and Muslim Societies</strong> adalah jurnal akses terbuka yang menampilkan riset mutakhir tentang Islam sebagai tradisi keilmuan, praktik sosial, dan pengalaman hidup komunitas Muslim di berbagai kawasan. Jurnal ini mengutamakan karya orisinal yang kuat secara teori, ketat secara metode, serta relevan bagi diskursus akademik dan kebijakan publik. ISMA menerima naskah dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, menerapkan penelaahan sejawat double blind, dan berkomitmen pada etika publikasi yang mengikuti pedoman COPE.</p> Universitas Muhammadiyah Berau en-US ISMA Journal: Islamic Studies and Muslim Societies Negosiasi Identitas Perempuan Muslim dalam Sastra Indonesia Kontemporer https://jurnal-umberau.com/index.php/ismajournal/article/view/1214 <p>Representasi perempuan Muslim dalam sastra Indonesia kontemporer tidak lagi terbatas pada gambaran perempuan dalam ruang domestik, tetapi berkembang pada persoalan pendidikan, kebebasan memilih, mobilitas, pekerjaan, dan hubungan antara kesalehan dengan kehidupan modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk negosiasi identitas perempuan Muslim dalam novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy dan The Jilbab Traveler karya Asma Nadia. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik sastra feminis. Data penelitian berupa kata, kalimat, dialog, narasi, dan peristiwa yang menunjukkan konstruksi identitas perempuan Muslim dalam kedua novel. Analisis dilakukan melalui tiga aspek, yaitu relasi perempuan dengan norma patriarkal, pendidikan dan kemandirian perempuan, serta negosiasi antara identitas keislaman dan modernitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua novel sama-sama menghadirkan perempuan Muslim sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk menentukan arah kehidupannya. Perbedaannya terletak pada bentuk negosiasi yang ditampilkan. Perempuan Berkalung Sorban menempatkan negosiasi identitas terutama dalam konteks kritik terhadap tradisi patriarkal di lingkungan pesantren, sedangkan The Jilbab Traveler menampilkan negosiasi identitas melalui mobilitas, pendidikan, pekerjaan, perjalanan, dan interaksi dengan dunia global. Kedua novel memperlihatkan bahwa identitas perempuan Muslim bukan kategori yang statis, melainkan terus dibentuk melalui pertemuan antara agama, budaya, gender, dan perubahan sosial.</p> Winda Jubaidah Copyright (c) 2026 ISMA Journal: Islamic Studies and Muslim Societies https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2026-07-17 2026-07-17 2 1 1 14 KEHUJJAHAN HADIS DHA’IF DALAM PANDANGAN PARA ULAMA https://jurnal-umberau.com/index.php/ismajournal/article/view/1215 <p>Hadis dhaif merupakan salah satu persoalan yang menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama, khususnya berkaitan dengan kebolehan mengamalkannya sebagai dasar ajaran Islam. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pandangan para ulama mengenai kehujjahan hadis dhaif serta batasan penggunaannya dalam praktik keagamaan. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan menelaah berbagai literatur ilmu hadis dan pendapat para ulama yang membahas hukum mengamalkan hadis dhaif. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat tiga pandangan utama. Pertama, sebagian ulama membolehkan pengamalan hadis dhaif secara luas dengan sejumlah persyaratan. Kedua, sebagian ulama menolak penggunaan hadis dhaif secara mutlak karena hadis tersebut tidak memberikan dasar yang kuat untuk menetapkan ajaran agama. Ketiga, mayoritas ulama membolehkan penggunaan hadis dhaif dalam masalah keutamaan amal (<em>fad{a&gt;’il al-a’ma&gt;l</em>), targhib, dan tarhib, tetapi tidak untuk menetapkan akidah dan hukum halal-haram, dengan beberapa syarat tertentu. Di antara syarat tersebut adalah hadis tidak memiliki kelemahan yang berat, kandungannya berada dalam cakupan dasar syariat yang umum, tidak bertentangan dengan hadis sahih, dan tidak diyakini sebagai hadis yang pasti berasal dari Nabi. Kajian ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat mengenai hadis dhaif tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai persoalan menerima atau menolak hadis, tetapi berkaitan dengan konteks, tingkat kelemahan hadis, dan tujuan penggunaannya. Oleh karena itu, sikap ilmiah terhadap hadis dhaif memerlukan kehati-hatian, penelitian terhadap kualitas hadis, serta penghargaan terhadap perbedaan argumentasi di antara para ulama.</p> Umar Hadi Copyright (c) 2026 ISMA Journal: Islamic Studies and Muslim Societies https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2026-07-17 2026-07-17 2 1 15 30 AKUNTANSI SYARIAH https://jurnal-umberau.com/index.php/ismajournal/article/view/1216 <p>Akuntansi syariah membawa dua muatan sekaligus. Muatan pertama bersifat teknis berupa kepatuhan terhadap standar seperti PSAK 101 hingga PSAK 109 dan fatwa Dewan Syariah Nasional MUI. Muatan kedua bersifat etis berupa amanah, yaitu tanggung jawab pencatatan yang jujur di hadapan Allah dan pemangku kepentingan. Artikel ini mengkaji ketegangan dan keterkaitan antara kepatuhan formal dan amanah substantif dalam praktik akuntansi syariah di Indonesia. Metode kualitatif digunakan melalui studi literatur atas jurnal terakreditasi periode 2023–2026 serta data statistik resmi Otoritas Jasa Keuangan. Temuan menunjukkan pertumbuhan aset keuangan syariah nasional mencapai Rp3.131,02 triliun pada 2025. Namun, pertumbuhan kuantitatif tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh kedalaman implementasi nilai amanah, terutama pada sektor UMKM syariah yang masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia kompeten. Artikel merekomendasikan penguatan pendidikan akuntansi syariah berbasis maqasid, bukan sekadar kepatuhan administratif.</p> Syaprudin Ardian Nor Rafli Yunianto Pratama Sulpadli Muhammad Ridho Copyright (c) 2026 ISMA Journal: Islamic Studies and Muslim Societies https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2026-07-17 2026-07-17 2 1 31 35 ISLAM, KEMISKINAN DAN KESEJAHTERAAN https://jurnal-umberau.com/index.php/ismajournal/article/view/1217 <p>Artikel ini mengkaji hubungan antara nilai keagamaan, kemiskinan, dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dengan menggunakan kerangka <em>maqashid syariah</em> sebagai lensa analisis. Berbeda dari pendekatan kesejahteraan konvensional yang semata mengandalkan indikator moneter, penelitian ini memaknai kesejahteraan sebagai <em>maslahah</em> —kebaikan menyeluruh yang mencakup perlindungan agama (<em>hifz al-din</em>), jiwa (<em>hifz al-nafs</em>), akal (<em>hifz al-'aql</em>), keturunan (<em>hifz al-nasl</em>), dan harta (<em>hifz al-mal</em>). Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis data sekunder dari <em>Kabupaten Berau Dalam Angka 2026</em> terbitan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau, penelitian menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin Berau menurun dari 5,88 persen (2021) menjadi 4,44 persen (2025), diiringi kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 76,71 (2023) menjadi 77,72 (2025). Namun demikian, Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan justru meningkat pada periode 2017–2022, mengindikasikan bahwa kesenjangan di antara penduduk miskin semakin dalam meskipun jumlahnya menurun. Dari sisi keagamaan, mayoritas penduduk (82,74%) menganut Islam dengan dukungan 302 masjid dan 178 musala yang tersebar di 13 kecamatan, mencerminkan potensi besar instrumen filantropi Islam (zakat, infak, sedekah, dan wakaf/ZISWAF) sebagai pelengkap kebijakan pengentasan kemiskinan berbasis negara. Artikel ini berargumen bahwa pembacaan kesejahteraan Berau melalui <em>maqashid syariah</em> memberi kerangka yang lebih holistik dan kontekstual dibandingkan dengan pendekatan pembangunan sekuler semata.</p> Ma'rifah Yuliani Syarifuddin Wahid Hasyim Hasnawati Warti Ratnasari Diah Riyani Copyright (c) 2026 ISMA Journal: Islamic Studies and Muslim Societies https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2026-07-17 2026-07-17 2 1 36 43 LITERASI KEAGAMAAN DI ERA DIGITAL: TANTANGAN VERIFIKASI INFORMASI ISLAM DI MEDIA SOSIAL https://jurnal-umberau.com/index.php/ismajournal/article/view/1218 <p>Perubahan pola konsumsi informasi keagamaan di ruang digital menghadirkan peluang sekaligus persoalan baru bagi masyarakat Muslim. Media sosial memungkinkan pesan keagamaan beredar secara cepat, murah, dan luas, tetapi karakter algoritmik dan budaya berbagi juga membuat informasi yang tidak terverifikasi mudah memperoleh perhatian. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep literasi keagamaan dan merumuskan kerangka verifikasi informasi Islam yang relevan dengan karakter media sosial. Penelitian menggunakan kajian teoretis berbasis kepustakaan dengan menelaah literatur tentang literasi keagamaan, literasi media dan informasi, agama digital, disinformasi, serta studi mengenai konsumsi informasi Islam di ruang digital. Analisis dilakukan dengan menghubungkan tiga dimensi, yaitu pengetahuan keagamaan, keterampilan evaluasi informasi, dan etika penggunaan informasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa literasi keagamaan digital tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mengetahui ajaran agama, tetapi juga kemampuan menilai sumber, memeriksa konteks, membedakan fakta keagamaan dari opini, mengenali otoritas, dan mempertimbangkan dampak sebelum membagikan informasi. Media sosial bersifat ambivalen: dapat memperluas akses terhadap pengetahuan Islam sekaligus memperbesar risiko simplifikasi, misinformasi, dan pembentukan otoritas keagamaan berbasis popularitas. Artikel ini menawarkan kerangka verifikasi yang terdiri atas lima langkah: mengenali sumber, memeriksa teks atau klaim, membaca konteks, membandingkan dengan sumber otoritatif, dan mempertimbangkan etika penyebaran. Kerangka tersebut dapat digunakan dalam pendidikan Islam dan penguatan literasi keagamaan masyarakat Muslim di era digital.</p> Winda Jubaidah Syaprudin Iim Muhammad Husein Copyright (c) 2026 ISMA Journal: Islamic Studies and Muslim Societies https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2026-07-17 2026-07-17 2 1 44 54