PERIWAYATAN HADIS: Sebuah Tinjuan Teologis dan Filosofis Kebenaran Berita
Main Article Content
Abstract
Periwayatan hadis merupakan mekanisme transmisi yang menentukan validitas hadis
sebagai sumber ajaran Islam, karena terkait langsung dengan ketersambungan sanad
dan akurasi matan. Artikel ini meninjau konsep periwayatan hadis melalui studi pustaka
dengan fokus pada: definisi riwayat, filosofi verifikasi berita, syarat tahammul
(penerimaan) dan ada’ (penyampaian), ragam thuruq periwayatan pasca-sahabat, serta
problem periwayatan bi al-ma’na. Celah kajian yang dibahas ialah kecenderungan
kritik kontemporer yang menggeneralisasi riwayah bi al-ma’na sebagai ancaman besar
bagi otentisitas hadis. Hasil kajian menunjukkan bahwa syarat penyampaian hadis lebih
ketat dibanding penerimaan demi mencegah distorsi, dan bahwa delapan metode
tahammul wa ada’ (al-sama’, al-qira’ah/‘ard, al-ijazah, al-munawalah, al-mukatabah,
al-i’lam, al-washiyyah, al-wijadah) memiliki konsekuensi epistemik yang tercermin
pada shiyagh al-ada’. Riwayah bi al-ma’na memang membuka peluang tadlis dan idraj,
tetapi tidak otomatis merusak otentisitas karena dibatasi kompetensi perawi serta
disaring melalui kaidah kesahihan (ittisal sanad, ‘adalah–dhabt, bebas syadz dan ‘illah)
dan uji muqaranah lintas sanad-matan. Dengan demikian, otentisitas substansi hadis
tetap dapat dijaga melalui kritik hadis yang ketat.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.